Home

Showing posts with label Senang Riang. Show all posts
Showing posts with label Senang Riang. Show all posts

Monday, July 16, 2018

Melompat Ke Jakarta

Dua minggu di awal Juli, sedikit waktu untuk memutuskan mengambil sebuah lompatan besar sekali, nekat -tapi juga dengan rumit segala kemungkinannya dihitung oleh kepalaku. 

Segala siap dan ketidaksiapan aku tata rapi dalam koper yang tidak bisa aku angkat sendiri.

Pada titik itu aku mengingat sebuah kutipan sederhana, "...ketika masih ada ibumu, doanya akan membuatmu memenangkan sebanyak apapun hal di dunia ini."

Semudah itu, hingga Tuhan kemudian berkata, "Sekarang waktunya!"

Mamah dengan ringan dan sigap membuat seisi rumahku berpindah kembali ke rumah Uyut, tanpa keluhan, membuatnya senyaman mungkin, pun untuk Emen yang nantinya akan aku tinggal untuk sementara.

Baru sehari di Jakarta. Mungkin Mamah dan kopernya ke tanah suci perlahan sudah terisi, dan Emen yang murung hanya ada di kepalaku. Aku siap berlari lagi. Di hari terakhirku di Jogja, Aga mengajakku kembali mengingat pelarian-pelarianku yang menyenangkan. Terima kasih, Ga!

Friday, March 23, 2018

Ukur dan Syukur


Doa-doa seringkali terkabul tanpa disadari,

Seperti pagi itu, dalam sebuah bis kecil menuju Semarang, aku takjub melihat plang-plang toko di Muntilan. Cahaya pagi mendadak dramatis hanya dengan mengenai kursi-kursi di depanku. Segalanya menjadi berjalan lambat, seperti sedang menonton film kesukaan dengan aku di dalamnya, sebagai aku, bersama Devy yang ketiduran.

Hari pertamaku dihabiskan dengan membolak-balikkan laporan pajak dalam ordner besar, mencatat, mengetik, begitu terus sampai sore. Malamnya, aku dan Devy makan tahu gimbal di Simpang Lima Semarang. Kami senang begitu tahu pusat oleh-oleh, Padanaran, ada di dekat situ, kami pikir bisa jalan kaki sambil ngobrol. Ternyata lumayan karena harus melewati dua lampu merah. Akhirnya kami naik becak yang telah ditawar dengan agak manusiawi.

Kami kunjungan pabrik di hari kedua. Semuanya terasa baru dan seru. Aku diajari cara membedakan mana jalan aspal dan mana jalanan beton, mana yang lebih kuat dan awet, mana yang lebih licin ketika hujan. Sampai akhirnya kami benar-benar sampai di pabrik. Mesin kuning yang besar sekali itu adalah mesin pencampur aspal. Ada sepasang tangki berisi aspal padat, dan pipa-pipa penyalur menuju si mesin kuning tadi jika aspalnya sudah mencair. Nantinya truk pengangkut akan siap persis di bawahnya. Aspal yang telah dicampur rata, dituang, dan siap diantarkan ke tujuan selagi masih panas. 

Aku memejamkan mata, masih dalam bis yang menderu halus di jalanan aspal, merasa semua ini tidak mampu aku rekam semua-muanya. Lalu aku memutuskan menikmati sekenanya, seadanya, 

"Sebuah nostalgia yang takkan terlupa,
tentang gadis bingung dan pengembara"

"Ternyata bukan tentang menanti dan menunggu,
Tetapi memang telah waktunya tuk bertemu"

Monita bernyanyi di telingaku, dan aku akhirnya berhenti mengukur-ukur segala sesuatunya.

Sunday, July 9, 2017

Angpau Terakhir, Villa Berhantu, dan Lamaran Sepupu

Momen lebaran buatku selalu menyenangkan.
Ritual persisnya begini:
1. Bikin list di otak tentang makanan apa saja yang pingin banget dimakan setelah bulan puasa selesai. 
2. Mikir keras buat jawaban pertanyaan-pertanyaan susah yang akan diajukan tante, budhe, dan mbahti. Ngga lupa latihan senyum tulus.
3. Bakalan jalan-jalan ke mana tahun ini.

Tentang list makanan, walaupun memang kue manis di mana-mana, jelas-jelas konsep lebar-an bukan aku banget. Tapi sebagai cewek yang bakat nggak bisa gendut, perlu disyukuri dong dengan melahap makanan apa aja yang kusuka. Khususnya jajanan dan makanan wajib keluarga besar. 

Sebelum solat ied di lapangan dekat rumah, yang kami selalu cek adalah "Apakah si mbok tua penjual gulali dan baso jualan?" kalau beliau ada, selalu ada tante-tante yang borong kedua jajanan tersebut sebelum solat ied dimulai. Biar nggak ikutan antri pas solat selesai dan pasti udah kehabisan. Kejadian setelahnya adalah rebutan gulali-baso di rumah, siapa yang paling cepet sampai rumah paling berpeluang dapet jajanan-jajanan itu sekaligus. Dan pasti kekurangan. Kami selalu pingin bawa semua dagangan +si mboknya juga kalau perlu, buat jualan di depan rumah aja hahaha. Kalau si mbok nggak jualan, lebaran kami hampa.

Menu lainnya, tidak lain dan tidak bukan adalah menu lebaran yang itu-itu aja ala Mbak Tino, si mbak awet yang bantu-bantu di rumah. Ada rendang, opor ayam, sayur kubis, dan sambel goreng, oh iya ketupat!

Ketupat selalu dimasak di atas tungku berbahan bakar kayu. Kematangannya terjaga prima oleh bapak-bapak yang siap begadang gelar tiker deket situ. Beneran. Kalau rendangnya, kata si Soca, "Ini mah namanya Lebaran Starter Pack kalau udah ada bau rendang!". Opornya rahasia dapur. Sayur kubis dan sambel gorengnya tentu lezat dengan bumbu tangan cantik para sepupu. Padahal cuma nyumbang iris-iris pete, kubis, dan cabe deng hehehe.

Makanan beres. Sekarang yang paling deg-degannya nih!
Sesi sungkeman. Kupingmu perlu disiapin mentalnya, otak dan bibirmu harus sinkron, dan hatimu harus selalu dipenuhi kesejukan dari surga. Segitu seremnya, sampai aku hampir aja nge-print tarif apabila ingin mengajukan pertanyaan. Untung nggak jadi, karena aku udah banyak-banyakin berdoa. Alhamdulillah doa bagus-bagus yang keluar, bukan pertanyaan seram.

Waktu pembagian angpau, aku sadar. Sekaligus sedih dan semangat, dikit.
Aku udah kegedean buat nerima angpau. Mungkin seru ya kalau taun depan jadi yang ngasih krucil-krucil angpau dibungkus amplop lucu. Banyak yang berubah. Sepupu dah pada gede, dah pada kerja, pada punya keluarga sendiri, malah ada yang punya beberapa 'buntut'. Waktu sebenernya jalannya konstan aja, cuma aku yang kadang ngesot, kadang kebanyakan duduknya, kadang lari, kadang kayak dikejar setan. Gakpapa nikmati aja hihi. Tunggu ya bayi-bayiiii tantemu akan segera bekerja dan bagi-bagi duit insyaAllah!

Ritual liburan kami sebenarnya begitu-begitu aja kurang lebih. 
Pergi nyekar ke Kebumen rame-rame, ujung sanak familinya Mbahti dan Kakung, kewajiban makan bakso deket lapangan yang ngga boleh lupa, beli jajanan jadul banget, namanya kethek, di pasar Karanganyar tapi beneran enak. 

Besoknya baru agak beda, tapi beberapa tahun terakhir ini kami sewa villa di Kaliurang, rame-rame. Biasanya kami sewa villa yang itu-itu aja karena manfaatin diskon 50% Mamah karyawan kantor terkait. Serunya lebaran ini villanya dipake orang jadi mau nggak mau kami harus cari villa lain.

Pas dapet, hehehe sedikit horor. Baru kerasa atmosfernya doang sih, nggak tau beneran berhantu atau enggak. Ada lima kamar, dapur, ruang TV besar, dan kamar mandi. Tempatnya agak turun ke bawah jadi sedihnya kami ngga bisa lihat pemandangan sekitar, cuma dikelilingi pohon-pohon besar. 

Siapa cepat dia dapet kamar yang terang hehe. Kamar paling besar ada lemari terkunci, wastafel tua, dan lampu kelap-kelip. Kamar kedua dan ketiga terang, kamar empat lima lebih baik tidak ditempati. Dih masih merinding kalau bayangin gimana kamar empat. Pokonya paling sempit dan kacanya ditutupin :( jadinya gelap. Kamar lima, ngga tau, mungkin karena deket si empat dan jauh dari keramaian jadi mending ikut nggak ditempatin aja.

Akhirnya kami tidur empet-empetan aja di ruang TV yang syukurlah cukup besar buat menampung semua. Kami bersembilan belas, dan pada ketakutan cuma buat manasin nasi di dapur hahaha. 

Nggak ada apa-apa kok, cuma kerasa ada yang kurang beres aja sama villanya. Beberapa ponakan yang masih kecil cukup bikin kami merinding sih. Ada yang biasanya memang suka 'lihat' tapi ternyata dia anteng-anteng aja. Nah ponakan yang satunya lagi, waktu nyantai di luar sama Papahnya nyeletuk, "Pah, ada mbak-mbak." sambil menunjuk pohon besar sekitar situ :))

Ada lagi kali ini si tante yang mengalami, beliau baru aja selesai beberes di dapur dan jalan mau balik ke ruang TV, papasan sama 'yang sepertinya mbakku' trus ngehindar biar ngga tabrakan. Pas ditengok ndak ada hehehe. Dan pas udah sampai ruang TV lagi, mbakku di situ duduk diam. Hihuu!

Untungnya kami nginep rame-rame dan cuma sehari semalem aja. Besoknya lava tour naik mobil jip yang seru sekali. Tapi aku milih ikutan pulang duluan soalnya kena alergi dingin :( gatel semua badan. Padahal ngga biasanya....

Selamat-selamat!
Tambahan prosesi, lamaran sepupu.
Disuruh bantu waktu seserahan malah datengnya kalah on-time sama pihak calon manten laki-laki. Kelamaan bikin eye-liner sama pasang jarik lilit. Sepupu-sepupu memang terbaik, pasukan ngabisin sup! 

Ah iya ketinggalan, lebaran kali ini kami gagal nonton bioskop rame-rame soalnya udah ada bioskop rumah pake indihom. Kalo mau heboh, nontonnya hantu-hantuan. Semua terhantui sampai pulang ke rumah masing-masing, Beneran :((

Monday, March 20, 2017

A Home Sweet Home

Terbaik 2016: Kamar berjendela besar
      Pindahan.
     Ada yang melonjak senang setelah mamah bilang kami bisa hidup bertiga (dan Pak Emen, tentu) di sebuah rumah kecil bergaya Belanda. Serba dadakan malam itu, dan sebenarnya semua berawal dari drama putus-nyambungku dengan pacar. Waktu itu aku baru saja putus, dan ingin mencari suasana baru. Jadilah sore itu aku bilang pada Mamah, "Gimana kalo pindahan sekarang aja?" Aku ngotot membawa barang-barang di kamarku sekaligus hehehe. Untung ada Mas yang siap jadi tukang gotong. Semua barang yang dipindah dari rumah Uyut diangkut dengan Kijang andalan, bolak-balik.
        Kami pindah sekitar Februari 2016. Ternyata sudah setahun berlalu. Banyak yang sudah terlewati, mulai dari genteng bocor sampai dapur yang hampir kebakaran. Rumah ini masih satu komplek dengan kantor tempat Mamah bekerja. Anehnya beliau selalu pakai motor untuk berangkat bekerja. Sebelum kami, rumahnya ditempati oleh teman Mamah yang lain hm untuk waktu yang cukup lama. Lalu kami kemudian menempatinya, setelah sebelumnya dilakukan renovasi. Jadilah, genteng belum tahan uji. Ruang tengah kami banjir ketika musim hujan. Tapi sekarang semua menjadi semakin nyaman dan nyaman.

Mamah meracik bumbu-bumbu

    Kalau pagi sudah agak terang, selalu terdengar suara sapu Mamah membersihkan dedaunan. Mamah selalu menyapu paling pagi di komplek. Setelah itu halaman belakang. Kalau aku, punya tugas membersihkan dalam rumah dan beres-beres. Biasanya aku mulai dari membersihkan kamar Emen, menjemurnya di kandang luar, lalu menyapu sekaligus beres-beres. Mamah hampir selalu memasak setiap hari, kecuali ketika malas, banyak lauk, dan pingin makan di luar. Dapur kami langsung menghadap halaman belakang. Mamah juga menanam beberapa tanaman biar bisa langsung petik ketika memasak hehehe.

Ibu Kucing yang tinggal di atap rumahku
     Rumah ini terbaik dari yang pernah ada hehehe. Selain jendela kamarku yang besar sekali, aku bisa dengar cicit burung juga pemandangan rusa-rusa makan rumput tiap saat. Kantor Mamah memelihara banyak rusa, mungkin ada sekitar 20-30 rusa yang dibiarkan mencari makan sendiri. Ada juga ayam-ayam yang dibiarkan bebas dan bertelur sesukanya. Selain binatang-binatang itu, ada Ibu Kucing dan dua ekor anaknya yang menginap di atas atap rumahku. Ayah Kucing kadang menghampiri Emen yang sedang berjemur di dekat kamar mandi.

Pak Emen berjemur pagi-pagi






Sunday, September 25, 2016

Imaji

      Hari ini aku melihatmu di mana-mana,

      Di wajah mempelai pria waktu melihat wanitanya dirias.
      Di wajah kakakku ketika menggendong anak perempuannya.
      Di wajah kakek yang mesra menggandeng nenek.
      
      Mendadak, hadir di kondangan tadi terasa menjadi pilihan yang tidak sepenuhnya salah. Aku melihatmu di mana-mana. Pertama pada wajah mempelai pria ketika memandangi wanitanya dirias. Kamu di sana sedang duduk, wajahmu hanya memandangku lekat, bibirmu diam namun aku bisa melihatmu berseri-seri. Wajahmu bersemu.
      Kakakku saat itu sedang menggendong anak perempuannya. Lalu aku melihat kamu. Rambutmu yang biasanya kurang rapih dikuncir kuda, berpadu dengan blangkon gaya solo dan beskap hitam. Suka sekali. Tangan kirimu repot menggendong anak perempuan kita yang berebut ingin es krim di tangan kananmu. Aku hanya memandangmu dari jauh, tidak jadi menghampiri karena takut momen itu terhenti.
      Atau saat aku mengamati sepasang kakek-nenek dengan setelan kembar. Tangan kakek menggamit mesra si nenek. Kamu begitu menarik dengan batik lengan panjang dan aku dengan sanggul tinggi. Lalu kita berbisik-bisik membicarakan wanita di seberang yang berdandan menor. Kita tidak terlalu memperhatikan mc berbicara, atau mempelai yang sedang berbahagia, atau wedding band yang sedang bernyanyi di pojokan sana.

      Aku melihat kita berdua menua bersama tadi siang.

Monday, February 15, 2016

Sehat-sehat Buberu dan Misty!

Baru-baru ini aku membeli zine-zinenan lucu bikinan Hai Rembulan. Lupa, waktu itu kena angin apa pokoknya tau-tau aku langsung kontak Kak Icha lewat line dan pesen aja, padahal duit lagi defisit banget.



Kesukaanku, kisah Pak Amir di zine TSBD
Ah iya, kena angin Emen hahaha!
Emen itu kucing kampung campuran persia kepunyaan sepupuku. Sering kumandikan setiap hari Minggu pagi, pakai sabun rasa apel. Emen mulai sering aku rawat gara-gara rumahku kedatangan kucing baru yang lebih lucu. Dia betina, warna bulunya coklat muda, campuran himalaya-persia. Mungkin karena bulu Kuki warnanya cerah, Kuki jadi sering mandi di salon dan nggak boleh main di kebun. Emen yang bulunya hitam putih bebas saja aku biarkan lari-larian bahkan setelah dia kering berjemur habis mandi. 

'Emen' Betmen
Kak Icha waktu itu butuh biaya untuk operasi kucing-kucingnya, Buberu dan Misty. Buberu keguguran dan anaknya harus diangkat. Juga perawatan Misty kecil yang pupnya berdarah. Mungkin setelah membacanya aku jadi ingat Emen. Jadi aku putuskan untuk membantu mereka.

<3 <3 <3
Bonus: mini zine dan stiker
Daripada membayar ongkos kirim yang lumayan dan hanya membeli sebuah zine saja, aku akhirnya membeli zine-zine lainnya. Semua dibungkus dalam kantong coklat bergambar wajah Buberu dan Misty yang kembali ceria:
-zine gratis mingguan #1
-zine gratis mingguan #2
-zine Tidak Sengaja Bertemu Dengan
-zine 8-5
-zine Cita-citaku Waktu Masih Kecil
-zine Binatang-binatang Besar yang Ingin Aku Pelihara
-zine Peluk Bumi
Cara-cara mudah sayang bumi: tanam sayur sendiri dan bawa sapu tangan
Siapa tau kamu ingin,
instagram: Dikaushirley

Saturday, November 29, 2014

'Ngelenong' di Pasar Seni

23 November 2014
Kelak akan aku ceritakan ke anak-cucu.


Hari bersejarah dimulai saat Mas Tata pulang dari kantor lewat dari jam biasanya ia pulang. Aku menimbang-nimbang kapan baiknya aku harus minta izin untuk boleh main ke Bandung. 'Main' di sini tidak main-main, aku bakalan pergi naik kereta api bersama teman CardtoPost Jogja, meet up dengan teman CardtoPost Bandung-Jakarta, dan seru-seruan di Pasar Seni ITB sambil jaga stand.

Ternyata moodnya sedang baik, entah mungkin persidangan hari itu berjalan lancar atau gajinya baru saja turun. Senyum sumringah dan "Hai Onyeng!" menyambutku di ruang tv, yang disambut malah bingung harus mulai bicara dari mana.

"Mas, aku boleh request sesuatu?" aku mulai dengan lembut.
"Ngapa?"
"Besok tgl 22 aku boleh ke Bandung sama anak CardtoPost? Ada pasar seni. Kita mau ke sana meet up sekalian jaga stand."
"Ya nggakpapa." kok gampang banget?
".....aman nggak tuh? Kapan-kapan suruh pada main ke sini biar aku kenal." ternyata bersyarat.....


Singkat cerita, 22 November, jam 8 malam, kereta ekonomi Kahuripan membawa rombongan menuju Bandung. Saking senangnya, kami malah sibuk berbincang sampai lewat pukul 12. Mas Juno, Mbak Fida, dan Mbak Tane ngobrol. Mbak Ella sudah duluan membungkus tubuhnya jadi mumi biar tidur nyenyak, Mas Aam pun. Lalu tinggal aku dan Vitri, ngobrol sebangku berdua.

Awalnya aku cuma baca Petir dan Vitri pakai headset. Mas Aam yang tadinya tidur pelan-pelan bangun, kelaparan dan membuka sebungkus keripik pare. Dikeluarkan juga sketch book dan perangkatnya. Mas Aam yang berenergi itu menggambar deretan tas di atas kepalaku, lalu menggambar aku, Vitri, Mas Jun, dan kami semua tertidur lagi.


Tidur itu terasa sangat lama dan sebentar-sebentar bangun membetulkan posisi. Apalagi bangku kereta yang tegak ini mulai bikin leherku sakit. 

Kami turun di stasiun terakhir, Kiaracondong. 
Di pintu keluar sudah ada Mas Kiram dan di mobil juga ada Mbak Ucha yang menjemput. Kami langsung let's go ke rumah Mbak Fanni. 


Kupat tahu dan kue cubit setengah matang bikinan mamang yang lewat depan rumah Mbak Fanni sudah bikin kita siap 'ngelenong' di Pasar Seni hari ini. Hanya Mbak Ucha, Mas Kiram, dan Mas Juno yang ikut mobil bersama barang-barang. Kami sisanya mencoba pengalaman seru naik angkot ehehe. Kami ganti angkot dua kali. Jalan macet mulai mengular di sekitar kampus ITB.

Agak perjuangan nyempil-nyempil di kerumunan orang, tapi akhirnya kami sampai di stand CardtoPost. Dekorpun baru bisa dilakukan setelah rombongan mobil dapat parkiran di basement rumah sakit.


Kami juga menjual kartu pos kreasi beberapa teman.
Setelah susun dagangan, aku, Mbak Ella, dan Mbak Fida bikin tali jemuran untuk gantung-gantung hasta karya bikinan pengunjung. Kami menyediakan blank postcard dengan template cardtopost dibelakangnya, pengunjung yang berminat bikin-bikin disediakan tikar duduk dan alat menggambar, stiker warna-warni juga ada. Kemudian setelah gambar depan, alamat pengirim, dan pesan sudah terisi lengkap, pengunjung tadi diharuskan menulis alamatnya di kertas kecil yang nantinya untuk di acak sebagai penerima kartu pos dari pengunjung lainnya. Terbayang kan efek kejutannya? Menerima balasan sekaligus berkenalan dengan teman baru :) 


Oh iya, stand kami sempat repot karena kebanjiran. Hari itu Pasar Seni diguyur hujan lebat tapi untungnya hanya sebentar-sebentar. Efeknya lumayan, karpet dalam stand tidak bisa digunakan untuk duduk karena basah, tanah lapang di depanpun juga tidak bisa digelari tikar karena becek. Untunglah antusiasme pengunjung tidak berkurang, stand malah penuh sesak dengan sibuknya pengunjung yang sedang bikin kartu pos. 


Terima kasih atas Pasar Seninya teman-teman! 
Terima kasih sudah bikin aku senyum-senyum selama setahun ini.
Dan selamat-selamat! Akhirnya CardtoPost sudah beranjak balita 3 tahun ehehehe

Salam peluk dari kami!
*Judul entri dicuplik dari caption di instagram Mas Juno.
*Foto-foto dari kompilasi berbagai kamera. Makasih Aga dan Mbak Fida atas share fotonya!

Saturday, December 28, 2013

Life is Good, isn't it?

Nongkrong di parkiran aja udah cuci mata banget lho.
Yeees, life is good ya!

Dari pintu masuk aku udah mencak-mencak sendiri, ribut sendiri, karena baru di parkirannya aja mobil-mobil cantik ini udah bertebaran di mana-mana. Apalagi dalemnya, suuuper duuuuper! Hampir parkiran JEC penuh sama VW deh, berasa yang nggak VW tu salah gaul kalo parkir di situ.


Yaa, karena parkirannya aja udah kerasa kayak show room, kita -aku dan mas tata- muterin parkiran dulu dari ujung ke ujung. Yang keren adalah banyak plat-plat luar kota, mereka udah siap berpiknik di sini sampek hari minggu besok. Beneran lho, mereka gelar tiker kayak di padang rumput hijau gitu, bawa bekal makan, bantal, malah ada yang siap kompor. 

Kekerenan ini kemudian berlanjut di dalem JEC, yang parkir di dalem kinclong, terawat, dan dibatesin pager pembatas. Hm, kurang petualangan. Aaaa tapi nggak peduli, ini tetep super duper :>

Aku orangnya sistematis, jadi aku ngeliat mobilnya harus urut hahahaha, halah banget. Paling banyak yang ikut kontes itu, kalo nggak combi ya kodok. Tapi aku menemukan yang paling seksi, namanya Karmann Ghia, jejeran ada tiga. Semuanya cantik, tapi yang putih...... tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Karena yang tua itu nggak pernah mati,
jadi say helllo to my future car :)
   
Ngomong-ngomong. Dengan tiket 20k yang berlaku sekali masuk, kita bisa dapetin lucky draw  combi warna merah full restorasi. Huwah menarik ya! Ya tapi peluangnya 2/berapa ribu -_- ya kali siapa tau dapet beneran hihihi. Nggakpapa bukan Karmann Ghia, tetep tak tampani.

Ngomong-ngomong lagi. Di sini nggak cuma kontes VW aja lho. Ada bazar bertema volkswagen, tetep. Dan lagi-lagi aku nemu handmade things, aku kan nggak bisa tahan dengan keunyuan mereka. :| Terus beli friendship bracelet. Yang pasti bazar yang mendominasi itu bazar onderdil dan asesoris mobil. Nih, kukasih tau ya, kata Mas Tata, onderdil dan asesoris VW itu walaupun mau keluaran dulu banget tetep diproduksi sama pabriknya, katanya sih. Tuh, harusnya gitu tuh. Ada lagi yang menarik, lapak penjual buku. Bukunya imporan dan itu tentang mobil kuno, sayang, mahhhal. Aku numpang baca aja, beli poster Beetle Summary doang yang mau kupasang di kamar. Oh iya, kelewat, di deket pintu masuk ada pameran diecast sama balapan hotwheels. Jalan-jalan kali ini cukup bikin gempor karena muterin parkiran+hall 3x, tapi senaaaaang!

Hehehehe.

Thursday, December 5, 2013

Jalan Bareng Domo #JAFF2013

Magic Fingers Syndicate di JAFF 2013
Istimewa sekali si Domo mau nemenin ke JAFF bukan buat nonton fimnya tapi buat muter-muterin craft bazaar dan mborong notes lucuk :> bahagianya.. Iya, gagal hemat kalo udah ke tempat yang isinya beginian. -_- maunya semua kubeli deh.

Biar postingannya panjang, aku ceritain ya. Semua berawal dari nggak sengaja baca tweet Magic Fingers lewat di timeline, lalu googlinglah ada acara apa sebenarnya di societed. Ternyata ada Jogja Asian Film Festival! Pengen nonton film-filmnya sebenernya lho, tapi "Jalanan" tayangnya malem dan nggak ada yang nemenin nonton dadakan gitu. Semoga taun depan berjodoh nonton film-filmnya JAFF. Aamin.

Janjian jam 1 dan si Domo udah duluan dateng, ternyata waktu kita masuk gedung societednya masih buat makan siang panitia -_- padahal harusnya jam 12 udah buka lho bazarnya. Kemudian kita ke Museum Anak Kolong Tangga, buat masuk tiket seharga 4 ribu rupiah kalo mau foto-foto kena charge 5 ribu rupiah. Sedikit spooky sih ya karena museumnya sepi dan banyak boneka-bonekaannya. Abis itu kita turun lagi ke lantai 1 TBY ngeliat Bienalle Jogja bentar. 

Ketemu Brombierocking Lab lagi, paling mborong di sini.
Jam 2an kita balik lagi ke societed, daaaaan lumayan sebagian lapak udah pada rapi. Mulai muter deh kita, mulai kalap deh akunya. Serius deh rasanya ini lebih kalap dari pas Crafty Carnival kemaren. -_- aku beli notes bersampul ungu gambar kapal 53k, notes kecil gambar serigala 20k, sama keychain flower seeds 5k pesenan Runa. Karena mborong, dapet diskon 3 ribu rupiah asiiiik. Terus kita muter lagi, eh inget sama notes gambar 7-up vintage gitu 55k. Beli lagi deh. Ketemu sketch book tamimi besar, 40k. Beli lagi deh. -_- Selamat datang bokek di tanggal muda~ 


* * *

Ini dia, Domoo
Terima kasih Domooo! Kapan-kapan kita belanja bareng lagi ya :>

Sunday, November 17, 2013

This is it...... Heaven on Earth!

Harta Karunku -notes&bookmark Journaley, postcard FVKE-FINE,
gelang macrame, keychain Brombierocking Lab.
CRAFT CARNIVAL #3
Assalamualaikum halo sedang apa di sana? Sedang bahagia di sini :> belum berhenti tersenyum sedari Indiecology. 

Hehehe habis belanja harta karun nih. Setelah batal dateng di hari pertama karena standnya pada kukut kehujanan, aku berhasil mendapatkan harta karunku ini di hari ketiga. Sedikit ribet waktu berangkat karena hujan gerimis dan aku memutuskan buat nggak jadi bawa kamera takut malah nggak dapet apa-apa. Eh sampai sana terang benderang, kemudian nyesel. Padahal di sana asik gitu tempatnya, banyak bunting flag ada yang dari benang wol, kain perca, rafia-rafia. Rame deh, banyak stand-stand yang aku baru liat juga.

Di pintu masuk aku di sambut oleh Needle n' Bitch dengan badge-badge uniknya, talenan yang di gambari dengan bolpen, totebag, dan beberapa notes recycle. Lucu deh, kukutip sedikit tagline nya ya; Needle n' Bitch yakin bahwa setiap perempuan cantik tanpa konsumtif.  Needle n' Bitch yakin setiap perempuan adalah pemberontak! Needle n' Bitch ini ada sedikit-sedikit bau politik gitu, membela perempuan pokoknya. Aku nggak beli sih tapi di sini hehe. 

Barang pertama yang aku beli adalah gelang macrame dari Aufaa Craft yang warna merah-biru-putih. Jatuh cinta pandangan pertama. Gelang macrame untuk 20k. Lucu ya, etnik-etnik tapi manis.

    
Secangkir kopi di halaman depan, dari cat air dan teh.
Digambar pake cinta.
Notes Journaley aku beli setelah bolak-balik 3x ke standnya hahaha. Di sini banyak banget notes-notes lucunya, ada kalung dream catcher juga. Padahal aku pengen gantungan pintu dream catcher, nggak ada. Suka banget sama bookmark recycle dari peta bekas dan bookmark kecil bergambar balon udaranya. Notes untuk 85k, pembatas buku 10k dan 7k. Dapet bonus sepasang tatakan gelas. 

Lalu ada postcard dari FVKE-FINE bergambar dua gadis sedang main congklak. Banyak pilihan sih, ada tema binatang, ada juga yang tema dolanan. Postcard seunyu ini enaknya memang dipandangi ya.

Kangen main congklak,
makanya beli yang gambar congklak deh.
Terakhir aku beli bibit stroberi boong-boongan di Brombierocking Lab hehehe. Ini gantungan kunci deng. Packagingnya bagus, pake kartu remi :> Banyak produk mereka yang dibuat dari clay, kayak bros sama kalung. Notes-notes juga ada. Mau beli lagi, sayang udah dapet si cantik biru muda tadi.

Di craft carnival ini juga ada workshop mbikin-mbikin handcraft gitu lho, aku tertarik yang bikin embroidery tapi kantong berkata lain haha. Semoga semakin banyak crafter-crafter unik bermunculan, semoga semakin sering crafty carnival dilaksanakan,  semoga masih bisa mencari harta karun lagi tahun depan! :> dadaaah. 

Friday, November 15, 2013

The Best Birthday Present Ever

Rara Sekar & Ananda Badudu
      "Walaupun aku duduk dan senyum-senyum sendirian di depan panggung, terimakasih udah beliin tiket dan burger pinggir jalannya :> ini hadiah ulangtaun tersweeeet."

Sabtu lalu, sambil disinari sinar rembulan aku duduk lesehan diatas rumput basah, yang kadang dirambatin semut-semut kecil, dan sambil ngantuk-ngantuk nunggu Banda Neira nyanyi. Lagu pertama yang mereka bawain Ke Entah Berantah kalo nggak salah ya :| sori aku pikun parah.  Kira-kira mereka nyanyi semua lagu di album, plus yang belum masuk album. Pecaaaaah pecah banget ngantuknya ilang, suaranya Kak Rara bening banget! Kak Nanda tentu dengan petikan gitarnya yang nggak kalah wah.

Aku suka cara mereka cerita sebelum mulai nyanyi sebuah lagu, ngalir aja gitu, Kak Nanda cerita, ntar Kak Rara nambah-nambahin. Hihi sweeeet. Paling merinding waktu denger cerita tentang Di Beranda dan Kak Rara keliatan berkaca-kaca waktu nyanyiin. Tapi favoritku masih Hujan di Mimpi, ayem banget kalo didengerin. Habis dengerin Banda Neira live kayak pengen loncat-loncat terus saking senengnya waaaaak :>

Saturday, October 12, 2013

"Bu Neneng, Bu Neneng!"

Hari ini cerah dan indah sebelum aku nyasar-nyasar nyariin rumah Daksa buat nyelesein tugas OCB (Output Character Building) ke Tk Aba Janturan, dan feeling acara kita berenam bakalan garing udah kebayang selama diperjalanan -_- 
Ternyataaaaaaaaa, foila! Mereka membuat bahagiaku turah-turah hari ini :>

Mereka ini yang suka manggil-manggil aku dengan
 "Bu Neneng, Bu Neneng!" dari kejauhan pake suara cempreng.